Sat. Jan 22nd, 2022

Akreditasi merupakan satu tahapan yang lumrah dilalui oleh sebuah lembaga pendidikan guna mengetahui sejauh mana lembaga tersebut telah memenuhi standar mutu yang ditetapkan pemerintah atau standar nasional pendidikan sebagai standar minimal kualitas. Tepat di tahun 2021 ini STAI Persis (STAIPI) Garut menjalani sejumlah akreditasi. Terdapat beberapa fakta menarik yang ditemukan selama proses akreditasi berlangsung.

Panen Akreditasi

Tahun 2021 menjadi momen panen akreditasi bagi STAI Persis Garut. Bagaimana tidak, dalam waktu yang berdekatan akreditasi dilaksanakan berturut-turut sebanyak empat kali. Di awali dengan akreditasi Lembaga (14-15 Juli) kemudian dilanjutkan dengan akreditasi prodi Ekonomi Syari’ah (26-27 Juli). Memasuki bulan Agustus giliran prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) melaksanakan akreditasi pada tanggal 11-12, dan prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) yang tidak lama lagi akan segera menyusul. Marathon akreditasi ini menuntut persiapan ekstra dari panitia lokal kampus dalam berbagai aspeknya, terutama stamina dan mental.

Akreditasi Pertama

Selanjutnya, dari rangkaian akreditasi tersebut terdapat fakta menarik lainnya. Semua akreditasi ternyata memiliki kesamaan. Semuanya merupakan akreditasi yang dilaksanakan untuk pertama kali sejak lembaga-lembaga tersebut didirikan. Sebenarnya, disela-sela rangkaian akreditasi tersebut prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) juga mengalami proses yang mirip akreditasi berupa Konversi Peringkat Akreditasi. Artinya  status akreditasi yang semula menggunakan B menjadi Baik Sekali dengan bobot nilai yang sama. Sementara proses akreditasi PAI sendiri telah dilaksanakan beberapa tahun yang lalu.

Dilaksanakan Secara Online

Sebagai sebuah proses asesmen lapangan, idealnya akreditasi dilaksanakan secara tatap muka, di mana tim assessor hadir dan mengecek secara langsung kondisi riil sebuah lembaga.  Akan tetapi situasi pandemi COVID-19 yang belum mereda dan pemberlakuan PPKM memaksa proses asesmen di lakukan secara daring (online) melalui aplikasi Zoom Meeting. Dua slide besar, puluhan unit komputer lengkap dengan earphone, dan juga jaringan internet yang memadai telah disiapkan oleh tim panitia lokal kampus untuk menjembatani proses interaksi dengan tim assessor. Walaupun terbilang baru, format online seperti ini tentunya tidak mengurangi esensi dan kekhidmatan proses akreditasi.

Didampingi Bidgar Dikti

 Salah satu momen berkesan dari rangkaian akreditasi ini adalah hadirnya ketua Bidang Garapan Pendidikan Tinggi (Bidgar Dikti) PP. Persis, Dr. M. Rachmat Effendi, M.Pd.I dari awal sampai akhir rangkaian proses akreditasi. Bukan hanya Lembaga, tetapi juga Prodi.  Hadirnya beliau tentu menunjukan tanggung jawab dan rasa cintanya terhadap kampus kebanggaan milik Jam’iyah tersebut. Bahkan menurutnya, selama mendampingi proses akreditasi, ada rasa haru dan bangga. Bukan hanya karena melihat teamwork nya yang solid tetapi juga komposisi timnya terdiri dari anggota Persis yang aktif di berbagai level otonom. Ini berarti komitmen kampus STAI Persis Garut terhadap Jam’iyah Persis tidak diragukan lagi. Ditambah dengan adanya formulasi Catur Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian, Pengabdian, dan Pengembangan Jam’iyah Persis) yang dianut dan diterapkan menguatkan anggapan tersebut. Karena itu, di luar tema akreditasi, beliau juga tidak segan berdiskusi seputar tema Kejam’iyahan guna mengingatkan fungsi para kader muda terlibat di kampus STAI Persis Garut, baik sebagai Dosen maupun Tenaga Kependidikan, agar berkontribusi dalam memajukan Jam’iyah Persis sesuai kapasitasnya masing-masing.

Selain ketua Bidgar Dikti hadir juga Ketua Umum PP. Persis yang juga menjabat sebagai ketua Senat; K.H.A Zakaria, dan Ketua PD. Persis Garut sekaligus ketua Dewan Penyantun; H. Ena Sumpena, M.Pd.I. Kehadiran para tokoh tersebut dari awal sampai berakhirnya rangkaian akreditasi jelas memberikan kesan luar biasa dan menumbuhkan kesadaran bahwa STAI Persis Garut tidak sendiri. 

Berbagai fakta yang ditemukan selama proses akreditasi yang sangat melelahkan mengajarkan keyakinan akan adanya kemudahan di balik kesulitan. Terdapat pengalaman berharga dan kesan luar biasa. Serta tentu saja dari proses -dengan kesan- yang baik akan mendapatkan hasil (nilai) terbaik.  (Taufik A)